BANGKA UTARA MIOnline.klick — Aktivitas tambang timah laut menggunakan Ponton Isap Produksi (PIP) di pesisir Pantai Penyusuk, Kelurahan Romodong, Kecamatan Belinyu, kembali menuai kecaman keras. Forum Aspirasi Nelayan Pesisir (FANP) Babel secara terbuka menuding pemilik dan koordinator ponton hanya mengejar keuntungan pribadi dengan mengorbankan laut, nelayan, hingga masa depan pariwisata pesisir utara Bangka. Minggu (10/5/2026).
Sorotan tajam diarahkan kepada kolektor timah berinisial Asg yang disebut menjadi penggerak aktivitas PIP di kawasan yang diduga kuat bukan zona pertambangan. Ironisnya, aktivitas tersebut tetap berjalan terang-terangan meski kawasan Pantai Penyusuk hingga Teluk Bakau diketahui masuk Zona Pariwisata dan Zona Perikanan Tangkap berdasarkan Perda RZWP3K Babel Nomor 3 Tahun 2020.
Ketua Umum FANP Babel, Firdaus, menilai dalih “membuka lapangan kerja masyarakat” yang disampaikan pihak pemilik ponton hanyalah tameng untuk membenarkan praktik tambang laut yang merusak.
“Jangan bungkus kerusakan lingkungan dengan narasi ekonomi rakyat. Kalau aktivitas dilakukan di luar zona tambang, itu jelas persoalan hukum. Jangan seolah-olah kebal aturan hanya karena membawa nama masyarakat,” tegas Firdaus, Minggu (10/5/2026).
Investigasi lapangan yang dilakukan aktivis lingkungan bersama warga menemukan deretan ponton beroperasi sangat dekat dari bibir pantai, bahkan diperkirakan hanya sekitar 150 meter dari kawasan wisata dan pemukiman nelayan.
Akibat aktivitas tersebut, ekosistem pesisir disebut mulai rusak parah. Padang lamun yang selama ini menjadi tempat berkembang biak sotong, kerang hijau dan berbagai biota laut kini tertutup lumpur tambang. Air laut berubah keruh kecoklatan, sementara sejumlah biota ditemukan mati membusuk di area terdampak.
Nelayan setempat mengaku menjadi korban paling nyata dari aktivitas tambang itu. Hasil tangkapan yang sebelumnya mampu menopang kebutuhan keluarga kini anjlok drastis.
“Dulu semalam bisa dapat 20 kilo sotong, sekarang dapat 2 kilo saja susah. Tempat sotong bertelur rusak dihajar lumpur tambang,” ungkap Usman, nelayan Romodong.
Bukan hanya nelayan, sektor wisata Teluk Bakau yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Belinyu juga ikut terancam lumpuh. Pengunjung mulai berkurang akibat kondisi pantai yang keruh dan dipenuhi limbah lumpur laut.
“Air sudah keruh, pasir menghitam. Wisatawan malas datang. Homestay kosong,” keluh Rans, pengelola wisata setempat.
FANP menilai pemilik ponton tidak bisa terus berlindung di balik alasan ekonomi masyarakat, sebab keuntungan terbesar justru diduga mengalir kepada para pemodal dan kolektor timah, sementara masyarakat pesisir hanya menerima dampak kerusakan.
“Yang kaya pemilik ponton dan kolektor timah. Yang menanggung kerusakan nelayan dan masyarakat pesisir. Ini pola lama, laut dihancurkan, rakyat dijadikan tameng,” kata Firdaus.
Menurutnya, jika benar aktivitas dilakukan di luar WIUP dan zona pertambangan, maka seluruh pihak yang terlibat mulai dari pemilik ponton, koordinator lapangan hingga penampung pasir timah dapat dijerat pidana sesuai UU Minerba dan UU Lingkungan Hidup.
“Merusak ekosistem lamun bukan pelanggaran ringan. Ada ancaman pidana serius. Jangan sampai aparat dianggap tutup mata ketika laut pesisir dihancurkan terang-terangan,” ujarnya.
FANP juga mempertanyakan keberanian para pemilik ponton yang tetap beroperasi meski penolakan masyarakat terus bermunculan.
“Kalau memang merasa legal, buka saja titik koordinat WIUP-nya ke publik. Jangan bermain di wilayah wisata dan perikanan lalu berdalih demi ekonomi rakyat,” sindirnya.
Atas kondisi itu, FANP mendesak Gakkum KLHK, PSDKP KKP, dan Polairud Polda Babel segera turun langsung melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap aktivitas tambang laut di Pantai Penyusuk.
Mereka meminta aparat tidak hanya menertibkan pekerja lapangan, namun juga memburu aktor utama dan pemilik modal yang diduga mengendalikan aktivitas tambang laut tersebut.
“Jangan pekerja kecil saja yang ditangkap. Telusuri pemilik ponton, koordinator, sampai aliran penjualan timahnya. Kalau dibiarkan, pesisir Belinyu tinggal menunggu kehancuran,” tutup Firdaus. (Red/adm)












Komentar