BANGKA, MIOnline.Klick — Tragedi tewasnya tujuh pekerja tambang di kawasan Pondi, Pemali, bukan sekadar kecelakaan kerja. Ia adalah potret telanjang betapa murahnya nyawa manusia di tengah gurita bisnis timah yang rakus dan tak bertuan. Di atas tujuh liang kubur yang masih basah, yang terdengar justru bukan tanggung jawab, melainkan koor saling lempar kesalahan antar pihak.
Lebih ironis lagi, sebelum insiden maut itu terjadi, aktivitas penambangan di lokasi tersebut disebut masih “dalam pengawasan”. Para penambang bahkan diarahkan agar seluruh bijih timah dari blok yang masuk wilayah IUP PT Timah dikembalikan ke PT Timah sebagai pemegang izin resmi. Artinya, aktivitas itu bukan benar-benar gelap, bukan pula sepenuhnya liar—melainkan berada di wilayah abu-abu yang selama ini dibiarkan hidup.
Namun begitu tujuh nyawa melayang tertimbun tanah, semua mendadak cuci tangan. Tidak ada satu pun pihak yang berdiri tegak dan berkata: kami bertanggung jawab penuh. Yang ada hanya senyap, menghilang, dan berlindung di balik prosedur.
Dari penelusuran di lapangan, alur timah dari Pondi ternyata sejak awal tak pernah transparan. Hardi, salah satu penambang, mengaku pernah didatangi sejumlah orang yang mengatasnamakan PT Timah.
“Mereka bilang ini wilayah PT Timah, jadi timahnya harus distor ke PT Timah. Dan memang sebagian timah masuk ke sana,” ujar Hardi.
Pengakuan ini membuka satu pertanyaan besar: jika benar timah dari lokasi tersebut mengalir ke PT Timah, lalu siapa yang sebenarnya mengendalikan aktivitas di lapangan? Siapa yang memberi ruang? Dan siapa yang paling diuntungkan?
Sumber lain, Hasna, menyebut nama Akian dan Aliang sebagai pihak yang terlibat langsung. Aliang disebut berperan sebagai pemilik mesin, sekaligus adik kandung Akian. Nama-nama ini bukan sekadar figuran, melainkan simpul penting dalam rantai produksi yang berujung pada tragedi.
“Selain akian ada juga aliang bro adek kandung akian. Akian ini pemilik mesin sementara ada satu lagi bos masih kami cari namanya dia orang kota Pangkalpinang,”ujar Hasna.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait masuknya pasir timah dari lokasi kecelakaan ke PT Timah, Kepala Bidang Komunikasi PT Timah, Anggi Siahaan, memilih bungkam. Tidak ada klarifikasi, tidak ada bantahan, tidak pula penjelasan. Sunyi yang justru makin bising di telinga publik.
Tujuh pekerja sudah mati. Tetapi yang hidup justru sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Di Pondi, yang terkubur bukan hanya tubuh manusia melainkan juga kebenaran, tanggung jawab, dan wajah asli industri timah yang selama ini berdiri di atas darah orang kecil. (Red/Radak)


















Komentar