PANGKALPINANG MIOnline.klick — Menyusul pemberitaan terkait dugaan temuan ulat dalam makanan jenis empek-empek yang didistribusikan ke salah satu sekolah, pihak SPPG Pintu Air akhirnya angkat bicara. Melalui Koordinator Lapangan (Korlap) Ian, pihak dapur menyampaikan hak jawab sekaligus hak koreksi guna meluruskan sejumlah informasi yang dinilai perlu diperjelas kepada publik. (Rabu,04/03/2026)
Ian selaku Korlap Sppg menegaskan, pihaknya tidak menutup diri terhadap kritik dan tetap menghormati fungsi kontrol sosial media. Namun ia meminta agar masyarakat juga memperoleh gambaran utuh terkait peristiwa tersebut.
“Kami memohon maaf apabila ada masyarakat yang merasa dirugikan. Tetapi perlu kami tegaskan, temuan yang diduga terdapat indikasi ulat itu hanya empat potong dari total 800 porsi yang kami kirim ke sekolah,” ujar Ian dalam keterangannya.
Menurutnya, angka tersebut penting disampaikan agar publik tidak menerima kesan seolah-olah seluruh makanan yang didistribusikan dalam kondisi bermasalah. Ia menyebut, dari ratusan porsi yang dikirim, hanya sebagian kecil yang dilaporkan bermasalah dan bahkan telah ditemukan sebelum dikonsumsi siswa.
Lebih lanjut, Ian menjelaskan bahwa pihak SPPG saat ini masih melakukan penelusuran internal untuk memastikan titik terjadinya kontaminasi. Ia menyebut adanya rentang waktu cukup panjang antara pengiriman dan laporan temuan.
“Pengantaran dilakukan sekitar pukul 09.30 wib. Laporan kami terima sekitar pukul 19.00 Sore harinya. Kami masih mendalami apakah kontaminasi terjadi di dapur atau dalam proses distribusi, setelah makanan berada di lingkungan sekolah, atau setelah dibawa pulang oleh penerima manfaat, mengingat rentang waktu yg panjang” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa makanan yang dimaksud merupakan jenis makanan kering untuk berbuka puasa, yang secara teknis memiliki daya tahan tertentu. Setiap kemasan, kata Ian, telah dilengkapi stiker petunjuk penyimpanan dan cara penyajian sebagai bagian dari standar operasional prosedur (SOP).
“Di dalam SPPG kami sudah menerapkan prosedur penyajian dan penyimpanan. Bahkan sebelum dikirim, sehari sebelumnya produk sudah diuji dengan disimpan dalam wadah tertutup selama 24 jam untuk memastikan kelayakan,” tambahnya.
Ian juga menekankan bahwa dapur SPPG Pintu Air berusaha menjaga keamanan dan higienitas. Selama beroperasi, pihaknya telah memproduksi hampir tiga juta porsi makanan dan baru kali ini menghadapi temuan serupa.
“Selama ini hampir tiga juta porsi sudah kami distribusikan. Ini kejadian pertama, dan kami bersyukur temuan tersebut sudah diketahui sebelum sempat dikonsumsi,” katanya.
Melalui hak jawab ini, pihak SPPG berharap masyarakat dapat melihat persoalan secara proporsional dan menunggu hasil investigasi internal sebelum menarik kesimpulan. Mereka juga memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh demi menjaga kualitas dan kepercayaan publik.
Pemberitaan ini dimuat sebagai bentuk pemenuhan hak jawab dan hak koreksi narasumber sesuai prinsip keberimbangan dan etika jurnalistik, agar informasi yang berkembang di tengah masyarakat tetap akurat, adil, dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. (Red/Adm)












Komentar