oleh

Tujuh Tahanan Kabur dari Rutan Polres Bangka: Dugaan Kelalaian hingga Skema Pelarian Terencana

-Berita-125 Dilihat
banner 468x60

BANGKA, MIOnline.klick — Kaburnya tujuh orang tahanan dari rumah tahanan (rutan) Mapolres Bangka pada Rabu dini hari (8/4/2026) menyisakan tanda tanya besar. Peristiwa yang semestinya menjadi mustahil dalam sistem pengamanan berlapis itu justru terjadi di bawah pengawasan langsung petugas piket, memunculkan dugaan kuat adanya kelalaian serius—atau bahkan celah yang dimanfaatkan secara sistematis.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, pelarian terjadi saat situasi dini hari ketika aktivitas di lingkungan rutan relatif lengang. Namun, kondisi tersebut justru diduga telah dibaca dan dimanfaatkan para tahanan. Mereka disebut-sebut telah merancang skenario pelarian dengan memperhitungkan waktu, situasi penjagaan, hingga kemungkinan titik lemah pengawasan.

Ironisnya, aksi kabur ini baru diketahui saat petugas piket melakukan pemeriksaan rutin. Saat itulah tujuh tahanan yang sebelumnya berada dalam sel dinyatakan hilang. Fakta bahwa pelarian bisa berlangsung tanpa terdeteksi dalam waktu tertentu menimbulkan pertanyaan serius: apakah sistem kontrol dan pengawasan di rutan berjalan sebagaimana mestinya?

Sumber internal yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa kemungkinan ada kelengahan prosedur standar operasional (SOP) penjagaan, mulai dari pengawasan fisik hingga pencatatan aktivitas tahanan. “Ini bukan sekadar kabur biasa. Ada pola yang mengindikasikan mereka sudah mempelajari ritme penjagaan,” ujarnya.

Ketujuh tahanan yang kabur diketahui berasal dari berbagai kasus, termasuk narkoba, pencurian, hingga perkara perlindungan anak (PPA). Mereka adalah Rosi Aprianto (kasus narkoba), Anugrah, Hari Darma (PPA), Andri Darmawan, Supriyadi, Yogi Trilando (narkoba), dan Weli (pencurian). Beberapa di antaranya berasal dari wilayah berbeda di Bangka Belitung hingga Sumatera Selatan, memperluas potensi jalur pelarian.

Hingga saat ini, aparat kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap para tahanan tersebut. Namun di sisi lain, publik mulai mempertanyakan tanggung jawab internal, khususnya terhadap petugas yang berjaga saat kejadian.

Minimnya respons resmi dari pimpinan menjadi sorotan tersendiri. Kapolres Bangka yang dikonfirmasi hingga berita ini diturunkan belum memberikan keterangan, memperkuat kesan adanya kehati-hatian—atau bahkan kebuntuan—dalam menjelaskan insiden ini ke publik.

Peristiwa ini tak hanya membuka peluang lolosnya pelaku kejahatan ke masyarakat, tetapi juga menguji integritas sistem pengamanan di institusi penegak hukum. Jika benar ada celah atau kelalaian, maka kasus ini tak berhenti pada pelarian tujuh tahanan, melainkan bisa berkembang menjadi persoalan akuntabilitas internal yang lebih luas. (Red/adm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *