oleh

Ulat di Empek-empek MBG SMP 5 Pangkalpinang, SPPG Lumbung Permata Gizi Disorot

-Berita-118 Dilihat
banner 468x60

PANGKALPINANG MIOnline.Klick — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali tercoreng. Kali ini, temuan mencengangkan datang dari ibu-ibu komite SMP Negeri 5 Pangkalpinang yang mendapati ulat pada empek-empek telur yang hendak dibagikan kepada siswa, Selasa (3/3/2026).

Temuan itu disebut berasal dari pasokan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lumbung Permata Gizi Pintu Air, Kota Pangkalpinang. Dugaan awal mengarah pada distribusi dari dapur yang berlokasi di belakang Hotel Mitra Pangkalpinang.

Salah satu anggota komite sekolah menuturkan, kecurigaan muncul saat makanan diperiksa sebelum dibagikan ke siswa.

“Saat empek-empek dibelah, terlihat jelas ulat-ulat putih di dalamnya. Ini bukan satu titik, ada beberapa,” ujarnya.

Temuan tersebut sontak memicu kepanikan. Makanan yang seharusnya menunjang gizi dan kesehatan siswa justru berpotensi membahayakan.

Dok : ulat yang berada pada makanan yang di sajikan oleh SPPG Lumbung Permata Gizi Pintu Air kota Pangkalpinang.

Distribusi Dihentikan

Menurut sumber yang sama, pihak komite langsung menghentikan pembagian dan meminta klarifikasi kepada pihak penyedia.

“Kami dapat informasi logistiknya dari SPPG Pintu Air. Karena itu pembagian kami hentikan. Ini menyangkut anak-anak,” tegasnya.

Langkah penghentian distribusi dinilai sebagai tindakan cepat untuk mencegah risiko konsumsi makanan yang tidak layak.

Di Mana Pengawasan Gagal?

Insiden ini memunculkan pertanyaan serius: di titik mana rantai pengawasan mutu terputus? Apakah di tahap pemilihan bahan baku, proses produksi, penyimpanan, atau distribusi?

Pengamat keamanan pangan menyebut, keberadaan ulat pada produk olahan seperti empek-empek mengindikasikan pelanggaran berat standar higienitas. Kontaminasi semacam itu bisa terjadi akibat bahan baku yang tidak segar, proses pengolahan yang tidak steril, atau penyimpanan pada suhu yang tidak sesuai.

Dalam konteks program negara yang menyasar anak sekolah, kelalaian sekecil apa pun dapat berdampak besar, bukan hanya pada kesehatan siswa tetapi juga pada kepercayaan publik terhadap program MBG.

Desakan Audit dan Evaluasi

Orang tua siswa mendesak dilakukan audit menyeluruh terhadap dapur penyedia MBG serta penghentian sementara distribusi dari pemasok terkait hingga hasil investigasi diumumkan secara transparan.

“Ini menyangkut keselamatan anak. Jangan ada pembiaran,” ujar salah satu wali murid.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pelaksana MBG di daerah. Program yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi generasi muda tidak boleh dikorbankan oleh kelalaian teknis dan lemahnya pengawasan.

Publik kini menanti langkah tegas otoritas—bukan sekadar klarifikasi, melainkan investigasi menyeluruh, penindakan bila ditemukan pelanggaran, serta perbaikan sistem pengawasan agar dapur gizi benar-benar steril sebelum makanan sampai ke piring siswa.

Kepercayaan publik adalah fondasi utama keberhasilan program ini. Sekali runtuh, membangunnya kembali bukan perkara mudah. (Red/Adm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *