oleh

90 Ton Pasir Timah Disorot, Tipidter Mabes Polri Perluas Operasi ke Bangka Barat

-Berita-147 Dilihat
banner 468x60

BANGKABARAT, MIOnline.Klick — Beberapa hari setelah penggerebekan rumah Bos Timah Keposang, Asui, di Toboali, langkah aparat penegak hukum ternyata belum berhenti.

Tim Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Bareskrim Polri yang dipimpin Brigjen Pol Irhamni dilaporkan bergerak ke Kabupaten Bangka Barat.

Informasi yang dihimpun Tim Radak Babel menyebutkan, pergerakan tim ini berkaitan dengan pengusutan kasus dugaan penyelundupan 90 ton pasir timah di Dusun Kampak, Desa Jebus, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat beberapa waktu lalu.

Langkah cepat ini memunculkan spekulasi adanya benang merah antara penggerebekan rumah Asui di Toboali dan praktik penyelundupan timah dalam skala besar di wilayah barat Pulau Bangka.

Dari Toboali ke Jebus
Penggerebekan di rumah Asui di Toboali beberapa waktu lalu menyita perhatian publik. Sejumlah aset dan brankas dipasangi garis polisi. Namun, hingga kini publik masih menanti kejelasan konstruksi hukum dan siapa saja yang akan ditetapkan sebagai tersangka.

Kini, sorotan bergeser ke Bangka Barat. Di Dusun Kampak, aparat disebut tengah mendalami peran sejumlah nama dalam kasus 90 ton pasir timah yang diduga hendak diselundupkan.

Kasus ini menyeruak setelah aktivitas bongkar muat timah secara diam-diam di dermaga RT 003 Dusun Kampak terungkap.
Sejumlah warga mengaku dilibatkan sebagai kuli pikul dengan upah Rp 500 per kilogram. Total dana yang beredar di tingkat masyarakat disebut mencapai Rp 50 juta.

Pola Lama, Aktor Baru?
Nama Tomo mencuat sebagai sosok yang diduga berperan sebagai pengendali lapangan. Ia disebut-sebut sebagai tangan kanan dari sosok berinisial Ang, yang diduga sebagai pemodal atau “big boss” dalam operasi tersebut.

Skema ini mengingatkan pada pola sebelumnya di Pantai Mentigi, Desa Teluk Limau, Kecamatan Parittiga, yang pernah menyeret nama Henky alias Cebol sebagai koordinator lapangan. Polanya serupa, masyarakat dilibatkan sebagai tenaga angkut, sementara aktor utama tak pernah tampak di lokasi.

Pepatah “lempar batu sembunyi tangan” terasa relevan. Pengendali diduga berada di balik layar, sementara masyarakat bawah menjadi tameng sekaligus korban sistem.

Ketua RT 003 Dusun Kampak, Dedi, bahkan mengakui ikut memikul timah. Ia menyebut kapal dan dermaga yang digunakan adalah milik Ang.

Kepala Dusun Kampak, Hasim, juga membenarkan bahwa dermaga tersebut milik Ang dan yang meminta izin penggunaan adalah Tomo.

Mul, salah satu warga yang membantu mengatur pembayaran, mengakui menerima dan membagikan uang Rp 50 juta kepada masyarakat.

Namun ia mengaku tidak mengetahui siapa pemilik timah tersebut dan hanya berhubungan dengan Tomo.

Jejak Jaringan Terstruktur
Jika benar 90 ton pasir timah terlibat, maka nilai ekonominya tidak kecil. Dengan harga pasir timah yang fluktuatif, volume sebesar itu menunjukkan operasi yang terorganisasi, bukan kegiatan sporadis.

Pola yang terungkap menunjukkan adanya struktur berlapis, yakni pemodal atau pengendali utama (diduga ANG), Koordinator lapangan (Tomo), Pengatur teknis dan distribusi dana (Mul dan lainnya), Masyarakat sebagai tenaga angkut.

Model seperti ini kerap membuat penegakan hukum berhenti di level operator lapangan. Pertanyaan publik, apakah kali ini akan berbeda?

Benang Merah dengan Penggerebekan Asui?
Belum ada pernyataan resmi yang mengaitkan langsung penggerebekan rumah Asui dengan kasus 90 ton pasir timah di Jebus.
Namun secara geografis dan pola bisnis, keduanya berada dalam ekosistem tata niaga timah Bangka Belitung yang selama ini kerap disorot karena praktik ilegal dan penyelundupan.

Penggerebekan di Toboali dan pergerakan aparat ke Bangka Barat memberi sinyal bahwa penyidik tengah memetakan jaringan yang lebih luas.

Bukan tidak mungkin, kasus-kasus yang selama ini berdiri sendiri ternyata saling terhubung dalam rantai distribusi yang sama.

Bangka Belitung bukan wilayah baru dalam pusaran persoalan timah. Namun setiap pengungkapan besar selalu menyisakan pertanyaan, siapa yang benar-benar mengendalikan permainan?
Kini publik menunggu keberanian aparat menyentuh aktor-aktor besar di balik layar. Apakah operasi ini akan membongkar jaringan hingga ke pucuknya, atau kembali berhenti pada operator lapangan dan masyarakat kecil?
Pergerakan Tipidter Mabes Polri ke Bangka Barat menjadi ujian. Bukan hanya bagi aparat, tetapi juga bagi komitmen negara dalam menata ulang tata kelola timah yang selama ini sarat kepentingan dan bayang-bayang kekuasaan. (Red/Radak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *