oleh

Dicatut Tanpa Konfirmasi, Cacan Murka: Jurnalisme Ajay Dipertanyakan di Tengah Skandal Solar Ilegal Belitung

-Berita-116 Dilihat
banner 468x60

BELITUNG, MIOnline.Klick — Di tengah derasnya sorotan publik terhadap dugaan jaringan solar ilegal di Pulau Belitung, sebuah persoalan serius lain mencuat ke permukaan. Bukan tentang minyak, bukan pula tentang distribusi ilegal, melainkan tentang pencatutan nama dan dugaan manipulasi narasumber dalam praktik jurnalistik.

Oktoris Chandra alias Cacan, nama yang sebelumnya kerap disebut dalam rangkaian laporan investigatif solar ilegal, kini angkat suara dengan nada keras. Bukan untuk membela praktik ilegal, melainkan untuk menolak keras penggunaan namanya sebagai narasumber tanpa pernah diwawancarai, dikonfirmasi, atau dimintai izin.

Kegeraman Cacan diarahkan kepada Ainul Yakin alias Ajay, oknum wartawan salah satu media lokal di Belitung, yang dalam sebuah pemberitaan mencantumkan nama Cacan seolah-olah memberikan keterangan terkait dugaan solar ilegal.

Masalahnya, menurut Cacan, wawancara itu tidak pernah terjadi.

“Saya tidak pernah diminta oleh Ajay, baik secara lisan maupun tertulis, untuk menjadi narasumber atau memberikan pernyataan di media online mana pun,” tegas Cacan saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Selasa (20/1/2026).

Bagi Cacan, ini bukan kesalahan teknis atau kekeliruan redaksional. Ini pelanggaran serius terhadap etika jurnalistik yang berpotensi mencemarkan nama baik dan merusak reputasi pribadi.

“Nama saya dipakai begitu saja. Ini bukan soal suka atau tidak suka, tapi soal hak dan etika. Saya sangat keberatan,” ujarnya dengan nada kesal.

Garis Batas yang Dilanggar

Kemarahan Cacan menjadi relevan jika ditarik ke konteks sebelumnya. Dalam laporan investigatif Radakbabel terdahulu, memang pernah dimuat pengakuan seseorang bernama Cacan yang menyebut dirinya bagian dari operasional perusahaan milik Sopiyan alias Pian, sosok yang oleh berbagai sumber lapangan disebut sebagai aktor besar distribusi solar ilegal di Belitung.

Namun laporan investigatif tersebut berbasis komunikasi langsung, verifikasi berlapis, serta dokumentasi percakapan. Artinya, ada proses jurnalistik yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Berbeda dengan pemberitaan Ajay, yang menurut pengakuan Cacan, sama sekali tidak melalui proses konfirmasi.

“Inilah masalahnya. Versi investigatif yang berbasis rekaman dan verifikasi itu berbeda secara fundamental dengan mencatut nama orang tanpa pernah bicara,” kata Cacan.

Respons Ajay yang Menuai Sorotan

Alih-alih memberikan klarifikasi jurnalistik atau permintaan maaf, respons Ajay justru menuai kritik. Dalam pesan WhatsApp yang dikirim Selasa (20/1/2025), Ajay menulis:

“Hahhaa senior. Awalnya hanya pengen tau. Nama Cacan kan gak hanya Cacan bang. Kan banyak pipit cacan. Takutlah apalagi ini mau maju Ketua PWI Belitung. Bisa dianulir mas boy.”

Bagi banyak pihak, jawaban ini tidak menjawab substansi persoalan. Tidak ada penjelasan bagaimana proses konfirmasi dilakukan, tidak ada koreksi, apalagi klarifikasi resmi.

Yang muncul justru tawa, pengaburan identitas, dan insinuasi politik.

Ancaman Jalur Hukum

Merasa dirugikan, Cacan menyatakan tengah mempertimbangkan langkah hukum terhadap Ajay. Ia menuntut klarifikasi terbuka dan penjelasan resmi kepada publik.

“Saya tidak terima nama saya dipakai tanpa izin. Dia harus bertanggung jawab dan menjelaskan ke publik,” tegasnya.

Jika langkah hukum ini ditempuh, kasus tersebut berpotensi membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana praktik jurnalistik dijalankan di tengah isu besar, serta sejauh mana etika dikorbankan demi kepentingan tertentu.

Ironi di Tengah Skandal Solar Ilegal

Kasus ini menjadi ironi ganda bagi publik Belitung. Di satu sisi, masyarakat menunggu keseriusan penegak hukum membongkar jaringan solar ilegal — mulai dari praktik “kencingan” kapal tanker, penyelewengan solar subsidi SPBU dan SPBN, hingga distribusi ke tambang timah ilegal.

Di sisi lain, muncul praktik pemberitaan yang mencederai prinsip dasar jurnalistik: verifikasi, konfirmasi, dan persetujuan narasumber.

Jika nama bisa dicatut sembarangan, jika narasumber bisa “diciptakan” tanpa wawancara, maka publik berhak bertanya: mana fakta, mana rekayasa?

Polemik antara Cacan dan Ajay bukan sekadar konflik personal. Ini adalah alarm keras bagi dunia pers lokal. Di tengah gelapnya praktik ilegal, jurnalisme seharusnya menjadi cahaya — bukan justru menambah kabut. (Red/Radak 05)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *