PANGKALPINANG MIOnline.klick – Wajah Pantai Pasir Padi yang selama puluhan tahun dikenal sebagai ikon wisata Kota Pangkalpinang kini perlahan berubah muram. Laut biru yang dulu menjadi kebanggaan masyarakat mulai keruh, sementara puluhan ponton tambang timah bebas beroperasi di depan kawasan wisata tersebut seolah tanpa pengawasan yang serius. Sabtu (9/5/2026)
Pemandangan cerobong asap ponton yang mengepul di tengah laut kini menjadi “hiasan baru” Pantai Pasir Padi. Ironisnya, aktivitas itu berlangsung di depan mata pemerintah dan masyarakat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar, apakah negara benar-benar hadir menjaga kawasan wisata dan lingkungan hidup di Bangka Belitung.
Masyarakat menilai persoalan ini bukan lagi sekadar polemik tambang laut biasa, melainkan ancaman nyata terhadap marwah Kota Pangkalpinang. Pasir Padi bukan pantai biasa. Ia adalah ikon daerah, wajah pariwisata ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sekaligus ruang hidup masyarakat pesisir.
Namun kini ikon itu seperti dibiarkan bertarung sendirian menghadapi gempuran tambang.
Wali Kota Pangkalpinang Prof Udin memang telah menyampaikan keresahannya. Ia mengakui pemerintah kota terus berkoordinasi dengan pihak yang memiliki kewenangan atas wilayah laut dan izin pertambangan. Bahkan Pemkot disebut telah membentuk Satgas Penertiban Tambang Ilegal sejak tiga bulan lalu.
Tetapi publik tentu tidak hanya membutuhkan pernyataan resah dan koordinasi administratif. Yang ditunggu masyarakat adalah tindakan nyata dan keberanian pemerintah menghentikan aktivitas yang dinilai merusak wajah wisata daerah.
Alasan keterbatasan kewenangan jangan sampai menjadi tameng pembiaran. Sebab masyarakat melihat kerusakan terjadi secara kasat mata. Jika pemerintah daerah mengaku tidak memiliki kewenangan laut, maka Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan pemerintah pusat harus turun langsung memastikan kawasan wisata strategis tidak berubah menjadi arena eksploitasi tanpa kendali.
Pemerintah pusat juga tidak boleh menutup mata. Sebab persoalan ini bukan hanya menyangkut tambang, tetapi menyangkut masa depan lingkungan, pariwisata, ekonomi masyarakat, hingga citra daerah di mata publik nasional.
Apa jadinya jika ikon wisata Pangkalpinang nanti hanya dikenal sebagai pantai yang dikepung ponton tambang.
Di tengah upaya daerah lain membangun sektor wisata berbasis lingkungan, Bangka Belitung justru menghadapi ancaman rusaknya kawasan wisata unggulan akibat aktivitas tambang yang terus bergerak di kawasan pesisir. Jika dibiarkan, maka kerusakan bukan hanya terjadi di laut, tetapi juga pada kepercayaan masyarakat terhadap keseriusan pemerintah menjaga aset daerah.
Pantai Pasir Padi seharusnya dijaga, dirawat, dan dipulihkan, bukan dipertontonkan sebagai simbol lemahnya pengawasan negara.
Kini masyarakat menunggu keberanian pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hingga pemerintah pusat untuk bertindak tegas. Jangan sampai sejarah mencatat bahwa ikon wisata Pangkalpinang rusak perlahan bukan karena bencana alam, melainkan karena pembiaran. (Red/adm)












Komentar