BELITUNG MIOnline.klick — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai upaya meningkatkan kesehatan anak justru memicu insiden serius. Puluhan siswa sekolah dasar di Desa Air Saga, Tanjungpandan, mendadak tumbang hampir bersamaan, Senin (04/05/2026), sesaat setelah menyantap menu yang disediakan.
Peristiwa ini terjadi di dua sekolah yang lokasinya saling berhadapan, yakni SDN 23 dan SDN 7 Tanjungpandan. Situasi yang awalnya kondusif berubah drastis menjadi kepanikan massal ketika siswa satu per satu mengalami gejala serupa.
Tanpa jeda waktu lama, para siswa mengeluh pusing, mual, muntah, hingga sakit perut hebat, gejala yang identik dengan keracunan makanan. Sedikitnya 30 siswa harus dilarikan ke Puskesmas Air Saga untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Kepala SD Negeri 7 Tanjungpandan, saat dikonfirmasi media Asti Ramdaniati, mengungkapkan bahwa gejala awal dilaporkan oleh seorang siswa kelas IV yang mengalami muntah.
“Tadi pagi itu awalnya ada siswa kelas IV yang lari ke saya melapor ada yang muntah. Saya tanya apa yang buat muntah, katanya diduga air tahu (susu kedelai),” ujar Asti Ramdaniati.
Mendapat informasi tersebut, Asti langsung mengkonfirmasi kepada seluruh guru untuk mengecek kondisi murid.
Beberapa menit kemudian, keluhan mulai muncul dari semua kelas, tidak hanya kelas IV saja.
Akhirnya, Asti mengumpulkan murid yang sakit ke ruang UKS untuk mendapatkan perawatan awal.
“Ada yang muntah-muntah, pusing dan lemas, itu yang dirasakan,” ungkap Asti.
Insiden ini langsung menyeret program MBG ke bawah sorotan tajam. Alih-alih memberi asupan bergizi, makanan yang disajikan justru diduga menjadi sumber petaka.
Fokus kecurigaan mengarah pada salah satu menu, yakni susu kedelai atau air tahu dalam kemasan plastik yang dibeli dari pasaran. Produk yang seharusnya aman dikonsumsi anak-anak itu kini diduga kuat menjadi pemicu keracunan massal.
Ketua Satgas MBG Kabupaten Belitung, Syamsir, S.Ikom, tak menampik kejadian tersebut. Ia mengakui dugaan awal mengarah pada konsumsi minuman tersebut.
“Ya, benar ada kejadian itu. Dugaan sementara setelah konsumsi susu kedelai atau air tahu bungkusan yang dibeli di pasar, yang merupakan bagian dari menu MBG,” ungkapnya.
Namun, insiden ini memunculkan pertanyaan serius, bagaimana bahan pangan yang didistribusikan kepada anak-anak bisa lolos tanpa pengawasan ketat.
Sebagai langkah darurat, pihak terkait langsung menghentikan operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pemasok susu kedelai turut diperiksa, sementara seluruh rantai distribusi mulai ditelusuri.
“Pemasok sudah diperiksa, tempat produksi juga dicek. Dapur kita hentikan sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan. Semua pihak akan kita panggil agar ke depan sesuai SOP,” tegas Syamsir.
Sampel makanan kini telah dikirim ke BPOM dan Dinas Kesehatan untuk uji laboratorium. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi kunci untuk mengungkap penyebab pasti insiden yang mengguncang kepercayaan publik ini.
Kasus ini bukan sekadar insiden biasa. Ini adalah alarm keras bahwa kelalaian sekecil apa pun dalam pengelolaan program pangan anak dapat berujung fatal. Evaluasi menyeluruh tak bisa ditawar karena yang dipertaruhkan adalah keselamatan generasi muda. (Red/adm)












Komentar