oleh

CV TNTB Diduga Kuasai Arus Timah Belitung, Kolektor Mengeluh Harga Ditekan Saat PT Timah Macet Dana

-Berita-78 Dilihat
banner 468x60

BELITUNG MIOnline.Klick — Peredaran timah di Kepulauan Belitung disebut-sebut kini dikuasai satu pintu. CV TNTB diduga menjadi “raja baru” distribusi timah, di mana hampir seluruh timah dari para kolektor besar di Pulau Belitung dikirim melalui perusahaan tersebut.

Informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber menyebutkan, operasional CV TNTB di Belitung dan Belitung Timur dikendalikan oleh orang kepercayaan keluarga, dengan urusan CV di Belitung disebut-sebut dipegang oleh Angga (Jebus) atas nama Leo alias Ekik.

“Sekarang hampir semua timah masuk lewat CV TNTB. Kolektor besar seperti Popo, Andry Ahai, dan lainnya, semua setor ke sana,” ungkap sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Meja Goyang Sendiri, Produksi Mandiri

Tak hanya menguasai jalur distribusi, CV TNTB juga diduga memiliki meja goyang sendiri sebagai sarana pengolahan timah. Sementara itu, CV TMTB yang masih satu jejaring disebut memiliki meja goyang di Sungai Manggar.

Kepemilikan fasilitas pengolahan ini dinilai memperkuat posisi CV TNTB dalam mengendalikan suplai dan harga timah di seluruh Belitung.

“Dengan kekuatan finansial mereka, praktis mereka bisa menguasai pasar. Kolektor kecil tidak punya pilihan,” tambah sumber.

Harga Ditekan, Selisih Keuntungan Fantastis

Situasi makin disorot ketika PT Timah disebut sedang mengalami kemacetan dana, yang berdampak langsung ke masyarakat dan kolektor. Kondisi ini diduga dimanfaatkan oleh CV TNTB untuk memainkan harga.

Per hari ini, harga PT Timah untuk OC 72 berada di kisaran Rp198.000 per kilo. Namun, CV TNTB hanya membeli di angka Rp183.000 per kilo.

Artinya, terdapat selisih Rp15.000 per kilo.

“Itu baru selisih harga. Belum lagi mereka ambil fee CV sebesar 9 persen dari total timah yang masuk lewat CV mereka,” ungkap sumber.

Jika dihitung, keuntungan CV TNTB diduga berasal dari dua sisi sekaligus:

  • Selisih harga: Rp15.000 per kilo
  • Potongan administrasi/fee CV: 9 persen

Masyarakat Terjepit

Sumber menilai, praktik ini membuat masyarakat dan kolektor kecil berada dalam posisi terjepit. Saat PT Timah tak bisa menyerap maksimal karena dana macet, CV TNTB diduga memanfaatkan momentum untuk menekan harga seenaknya.

“Mereka seperti penjajah. Harga suka-suka mereka. Masyarakat terpaksa jual karena butuh uang,” keluh sumber.

Perlu Perhatian Aparat dan Negara

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar terkait pengawasan tata niaga timah di Belitung Timur. Jika benar satu CV menguasai hampir seluruh arus timah, maka potensi monopoli, permainan harga, dan ketimpangan ekonomi menjadi sangat nyata.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak CV TNTB maupun pihak terkait belum memberikan klarifikasi resmi. (Red/Radak05)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *