oleh

Gedung Lab Rp2,9 Miliar Retak, Kejaksaan Diminta Audit — Vendor: “Pekerjaan Sesuai Spesifikasi”

-Berita-132 Dilihat
banner 468x60

PANGKALPINANG MIOnline.Klick — Sorotan terhadap proyek pembangunan Gedung Laboratorium Kesehatan milik Pemerintah Kota Pangkalpinang di lingkungan RSUD Depati Hamzah kian menguat setelah munculnya retakan pada sejumlah bagian bangunan yang baru sekitar 40 hari melewati Provisional Hand Over (PHO).

Proyek senilai Rp2.910.000.000 yang bersumber dari APBD melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2025 itu sebelumnya disorot karena ditemukan retakan pada rabat beton, dinding bergelombang, serta pemasangan Aluminium Composite Panel (ACP) yang dinilai kurang presisi.

Retak 40 Hari Setelah PHO: Alarm Bahaya

Keretakan dilaporkan muncul hanya sekitar 40 hari setelah Provisional Hand Over (PHO). Bukan sekadar retak rambut yang wajar pada proses penyusutan material, tetapi retakan pada rabat beton dan sejumlah bagian bangunan yang memicu pertanyaan serius soal kualitas pekerjaan.

Screenshot

Tim investigasi media Indonesia online di lapangan mendapati adanya upaya “perbaikan cepat” dengan metode penyiraman semen ke dalam rongga retakan. Tambalan tersebut terlihat jelas, tidak menyatu secara estetika maupun struktural. Cara penanganan yang terkesan instan ini justru memperkuat dugaan bahwa persoalan bukan sekadar teknis ringan, melainkan potensi kegagalan mutu pekerjaan sejak awal.

Di sisi kiri dan kanan gedung, dinding tampak bergelombang dan tidak rata. Bekas plesteran dan tambalan beton terlihat kasat mata. Finishing yang seharusnya presisi pada bangunan laboratorium justru menyisakan kesan dikerjakan tanpa kontrol kualitas yang ketat.

Pekerjaan ACP Diduga Tak Sesuai Standar

Sorotan juga tertuju pada pemasangan Aluminium Composite Panel (ACP/Alucopan) di bagian depan bangunan. Di sejumlah titik nat karet, tidak ditemukan aluminium penguat. Sambungan panel tampak tidak presisi, ketebalan nat karet hitam tidak seragam, dan celah antar panel berpotensi menjadi jalur masuk air.

Jika dibiarkan, kondisi ini bukan hanya persoalan estetika, tetapi ancaman jangka panjang terhadap daya tahan bangunan. Air yang merembes dapat memicu korosi, pelapukan struktur pendukung, hingga kerusakan interior.

Saat Media Indonesia online mewawancarai pihak kontraktor via WhatsApp: pihak kontraktor angkat bicara.

Vendor Cv Sakura: Barang Sesuai Dokumen Lelang.

Ari Sakura selaku perwakilan vendor proyek menegaskan bahwa seluruh material dan pekerjaan telah dilaksanakan sesuai spesifikasi dalam dokumen lelang.

Barang yang terpasang sudah sesuai spesifikasi dalam dokumen lelang,” ujar Ari saat dikonfirmasi.

Terkait kabel yang terlihat terpasang di bagian luar bangunan, Ari menyebut hal tersebut merupakan pekerjaan tambahan atas permintaan pihak pertama (pemilik pekerjaan).

Kalau masalah kabel di luar itu tambahan permintaan dari pihak pertama,” jelasnya.

ACP Bersertifikasi TKDN, ISO, dan SNI

Menanggapi sorotan terhadap pemasangan ACP di bagian fasad, Ari menegaskan bahwa material yang digunakan adalah produk dalam negeri bermerek Alcotuff yang telah memiliki sertifikasi TKDN, ISO, dan SNI.

Untuk ACP itu sudah bersertifikasi TKDN, ISO, dan SNI. Merk Alcottuf, produk dalam negeri,” katanya.

Terkait celah di antara panel ACP dan kondisi dinding di baliknya, Ari menyebut hal tersebut memang sesuai dengan volume pekerjaan yang tercantum dalam kontrak.

Masalah dinding antara ACP itu memang hanya sebatas volume itu,” tambahnya.

Retakan Disebut Hanya pada Acian, Bukan Struktur

Soal retakan pada bagian bawah dinding, Ari sakura membantah adanya kerusakan struktural. Menurutnya, retakan tersebut hanya terjadi pada lapisan acian, bukan pada struktur bangunan.

“Masalah dinding retak di bawah itu karena acian sudah selesai, lalu pemasangan railing tangga menyusul sehingga kena mata bor drill. Tapi yang retak cuma acian, bukan bagian dari struktur,” jelasnya.

Audit Tetap Dinilai Perlu Dilaksanakan

Meski vendor telah memberikan klarifikasi, desakan audit menyeluruh tetap bergulir. Mengingat proyek ini menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) sektor kesehatan, publik menilai transparansi dan pengujian mutu tetap perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada pelanggaran teknis maupun administratif.

Audit investigatif dinilai penting guna memastikan kesesuaian antara spesifikasi kontrak, pelaksanaan di lapangan, serta hasil akhir pekerjaan yang telah melalui PHO.

Kasus ini kini menjadi perhatian luas masyarakat Pangkalpinang. Di satu sisi, kontraktor menegaskan pekerjaan sesuai spesifikasi. Di sisi lain, temuan visual di lapangan memicu pertanyaan tentang kualitas finishing dan standar pengawasan.

Gedung laboratorium yang semestinya menjadi simbol peningkatan layanan kesehatan kini berada di bawah sorotan. Publik menanti kejelasan: apakah retakan itu murni persoalan finishing, atau ada hal lain yang perlu diuji secara independen? (Red/adm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *