oleh

Pekerja Tambak Udang PT FPI Tewas Terseret Arus di Perairan Tanjung Niur, Pengawasan Keselamatan Kerja Laut Dipertanyakan

-Berita-182 Dilihat
banner 468x60

BANGKA BARAT MIOnline.klick — Tragedi maut kembali terjadi di wilayah perairan Kabupaten Bangka Barat. Seorang pekerja tambak udang bernama Badrun Supriadi (43), warga Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, ditemukan meninggal dunia setelah sebelumnya dilaporkan hilang akibat terseret arus laut saat bekerja di kawasan perairan Desa Tanjung Niur, Kecamatan Tempilang.

Korban ditemukan pada Senin (18/5/2026) pagi sekitar pukul 06.35 WIB oleh nelayan yang tengah melaut di sekitar lokasi kejadian. Saat ditemukan, kondisi korban sudah tidak bernyawa dan langsung dievakuasi ke daratan.

Kapolsek Tempilang, Ipda Deni Irawan membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan aparat sebenarnya tengah bersiap melakukan pencarian gabungan bersama unsur TNI AL dan pihak terkait sebelum kabar penemuan korban diterima dari nelayan.

“Yang menemukan nelayan di tengah laut, sudah dibawa ke darat pukul 06.35 pagi tadi, kondisi sudah meninggal dunia,” ujar Deni kepada wartawan, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, jenazah korban kemudian dibawa ke Puskesmas Tempilang sebelum diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Peristiwa nahas itu terjadi sehari sebelumnya, Minggu (17/5/2026) sekitar pukul 15.27 WIB. Saat itu korban bersama sejumlah pekerja lain baru menyelesaikan pemasangan pipa tambak udang milik PT FPI di kawasan perairan Tanjung Niur dan hendak kembali ke daratan.

Namun situasi mendadak berubah mencekam ketika arus laut disebut tiba-tiba menguat. Dalam kondisi cuaca dan arus yang tidak bersahabat, korban diduga terlepas dari alat pengaman hingga akhirnya hanyut terbawa arus laut.

Insiden ini pun memunculkan pertanyaan serius terkait standar keselamatan kerja di kawasan proyek perairan, khususnya aktivitas pekerjaan laut yang memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan pekerja.

Pasalnya, pekerjaan pemasangan pipa di tengah perairan bukanlah pekerjaan biasa. Aktivitas tersebut membutuhkan pengamanan ketat, perlengkapan keselamatan memadai, hingga prosedur mitigasi darurat yang jelas apabila terjadi perubahan cuaca atau arus laut secara mendadak.

Publik kini mempertanyakan apakah sistem keselamatan kerja yang diterapkan dalam proyek tersebut telah berjalan maksimal atau justru masih menyisakan celah fatal yang berujung hilangnya nyawa pekerja.

Di sisi lain, kejadian ini juga menjadi pengingat keras bahwa pekerja lapangan di sektor pesisir dan kelautan masih menjadi kelompok paling rentan terhadap kecelakaan kerja, terutama ketika faktor keselamatan diduga belum menjadi prioritas utama.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan terkait detail mekanisme keselamatan kerja yang diterapkan saat aktivitas pemasangan pipa berlangsung di laut.

Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban yang datang jauh dari Sumatera Selatan untuk mencari nafkah di Bangka Belitung, namun justru pulang dalam kondisi tak bernyawa.

Warga sekitar berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dan meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan kerja di wilayah perairan, terutama pada proyek-proyek yang melibatkan aktivitas laut dengan risiko tinggi. (Red/adm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *