oleh

Prof Udin: Pemimpin yang Anti Kritik Sedang Menggali Lubang untuk Dirinya Sendiri

-Berita-14 Dilihat
banner 468x60

PANGKALPIANG MIOnline.klick – Wali Kota Saparudin atau yang akrab disapa Bang Udin melontarkan pernyataan tajam terkait hubungan antara kekuasaan, media, dan kritik publik. Di tengah maraknya pejabat yang cenderung sensitif terhadap pemberitaan negatif, Bang Udin justru menegaskan bahwa seorang pemimpin yang alergi terhadap kritik sedang berjalan menuju jebakan berbahaya kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri.

Pernyataan itu disampaikan Bang Udin saat menerima silaturahmi pengurus Pro Jurnalismedia Siber Bangka Belitung, yakni Rikky Fermana dan Muhamad Zen, di ruang kerjanya, Rabu (28/4/2026).

Dalam suasana pertemuan yang berlangsung santai namun penuh substansi, Bang Udin berbicara lugas mengenai pentingnya kritik dalam pemerintahan. Ia bahkan menyebut, banyak pemimpin jatuh bukan karena kurang pujian, melainkan karena terlalu lama hidup dalam lingkungan yang penuh sanjungan dan minim pengawasan.

“Pemimpin yang hanya mau mendengar pujian itu sebenarnya sedang menggali lubang untuk dirinya sendiri. Karena dia tidak lagi bisa membedakan mana kenyataan dan mana pencitraan,” tegas Bang Udin.

Menurutnya, media yang kritis justru menjadi alarm penting bagi pemerintah. Kritik dari wartawan dan masyarakat merupakan bentuk kontrol sosial agar kekuasaan tidak berjalan liar tanpa pengawasan.

Bang Udin menilai, anggapan bahwa pemimpin hebat adalah mereka yang mampu “mengendalikan media” merupakan pola pikir keliru yang berbahaya bagi demokrasi. Sebab, ketika media mulai takut mengkritik atau hanya menampilkan berita yang menyenangkan penguasa, maka saat itulah bibit penyimpangan mulai tumbuh.

Ia mengingatkan bahwa budaya asal bapak senang (ABS) masih menjadi penyakit laten dalam birokrasi. Banyak bawahan, kata dia, memilih menyampaikan laporan manis dibanding fakta di lapangan demi menjaga kenyamanan atasan.

“Kalau semua laporan bagus, semua berita positif, semua orang memuji, justru itu yang harus dicurigai. Tidak mungkin pemerintahan berjalan tanpa kekurangan. Kritik itu vitamin, bukan racun,” ujarnya.

Bang Udin bahkan menyinggung banyaknya pejabat yang akhirnya terseret kasus hukum karena terlalu lama berada di zona nyaman. Menurutnya, ketika kritik dibungkam dan kontrol publik melemah, seorang pemimpin perlahan kehilangan kompas moral dalam menjalankan kekuasaan.

Ia menilai tidak sedikit kasus korupsi besar yang terungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi maupun aparat penegak hukum lainnya bermula dari lingkungan birokrasi yang tertutup dan penuh kepura-puraan.

“Banyak kepala daerah atau pejabat merasa aman karena di sekelilingnya semua bilang bagus. Tidak ada yang berani mengingatkan. Tidak ada kritik. Tahu-tahu kena OTT. Itu karena mereka terlalu lama hidup dalam kenyamanan palsu,” katanya.

Bang Udin menegaskan, pers bukan musuh pemerintah. Sebaliknya, media merupakan salah satu instrumen penting dalam menjaga integritas kekuasaan. Ia menyebut wartawan memiliki posisi strategis sebagai mata dan telinga publik dalam mengawasi jalannya pemerintahan.

Dalam pandangannya, keberanian media mengungkap persoalan publik harus dipandang sebagai upaya memperbaiki keadaan, bukan ancaman bagi pejabat.

“Kalau ada wartawan kritis, jangan langsung dianggap menyerang. Bisa jadi mereka sedang mengingatkan kita supaya tidak salah langkah,” ucapnya.

Ia juga menyoroti karakter masyarakat Kepulauan Bangka Belitung yang dikenal terbuka dan ceplas-ceplos dalam menyampaikan pendapat. Menurut Bang Udin, budaya kritik di tengah masyarakat Bangka Belitung merupakan kekuatan demokrasi yang harus dijaga, bukan dibungkam.

“Masyarakat kita memang keras kalau bicara. Kadang pedas. Tapi itu bentuk kepedulian. Yang berbahaya justru ketika semua diam,” katanya lagi.

Bang Udin mengaku lebih menghargai kritik terbuka dibanding pujian berlebihan yang tidak jujur. Sebab, kritik memberikan ruang evaluasi bagi seorang pemimpin untuk melihat kekurangan dan memperbaiki kebijakan yang dianggap tidak tepat.

Ia mengingatkan, seorang pemimpin yang hanya mengejar citra dan tepuk tangan publik berpotensi kehilangan arah dalam memimpin. Menurutnya, pemimpin harus siap dikoreksi dan tidak boleh anti terhadap perbedaan pendapat.

“Pemimpin itu bukan raja yang harus selalu dipuji. Pemimpin harus siap dikritik karena kekuasaan itu diawasi rakyat,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Bang Udin juga mengajak insan pers untuk tetap menjaga independensi dan profesionalisme dalam menjalankan tugas jurnalistik. Ia berharap hubungan antara pemerintah dan media dibangun di atas prinsip keterbukaan, bukan relasi transaksional.

“Pers yang tajam bukan ancaman bagi pemerintah. Pers yang tajam justru membantu pemerintah tetap waras dan tidak keluar jalur,” pungkasnya.

Pernyataan Bang Udin tersebut menjadi sorotan di tengah situasi di mana kritik terhadap pemerintah kerap dianggap sebagai serangan personal atau upaya menjatuhkan kekuasaan. Sikap terbuka terhadap kritik yang disampaikan Wali Kota Pangkalpinang itu dinilai menjadi pesan penting bahwa demokrasi hanya akan sehat jika penguasa tetap mau mendengar suara publik, termasuk suara yang paling keras sekalipun. (Red/adm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *