oleh

Lebih dari Sekadar Usaha, Tambak Udang Jadi Sumber Nafkah dan Masa Depan Warga Parittiga

-Berita-130 Dilihat
banner 468x60

JEBUS, MIOnline.Klick — Deru mesin aerator di petakan tambak udang, langkah para pekerja yang menyusuri pematang, serta canda ringan sebelum pekerjaan dimulai. Di tempat inilah PT Besar Anugerah Perkasa (PT BAP) beroperasi, bukan hanya sebagai perusahaan, tetapi juga sebagai denyut ekonomi bagi banyak keluarga desa.

Hampir empat tahun tambak udang ini berjalan. Bagi Yan (45), salah satu pekerja, waktu itu bukan sekadar angka Dari tambak inilah ia membiayai hidup keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.

“Alhamdulillah, selama ini tidak ada masalah. Semua berjalan baik, gaji juga cepat,” katanya lirih sambil menatap petakan tambak yang mulai terang diterpa matahari.

Keberadaan PT BAP telah membuka lapangan kerja bagi warga sekitar, termasuk mereka yang sebelumnya hanya mengandalkan pekerjaan serabutan. Tambak udang ini menjadi ruang bertahan hidup, terutama bagi keluarga kecil yang menggantungkan masa depan pada penghasilan harian.

Asmi (50), perempuan paruh baya yang ikut bekerja di tambak, merasakan hal yang sama.
Di usianya yang tak lagi muda, bekerja di tambak memberi rasa aman. “Gaji cukup dan dibayar tepat waktu. Semua sesuai prosedur,” ujarnya.

Dari penghasilannya, Asmi membantu ekonomi rumah tangga dan tak lagi sepenuhnya bergantung pada anak-anaknya. Belakangan, muncul kabar yang menyebut adanya gaji satpam yang tidak dibayarkan.

Namun bagi para pekerja aktif, isu itu terasa asing. Mereka menilai persoalan tersebut tidak mewakili kondisi umum hubungan kerja di tambak.
Pimpinan PT BAP, Afo, menjelaskan bahwa satpam yang dimaksud sudah tidak lagi bekerja sejak 31 Desember 2025.  “Kalau sudah tidak bekerja, tentu tidak ada gaji untuk bulan berikutnya,” katanya.

Penjelasan ini disampaikan terbuka, tanpa menghindar dari sorotan publik. Di tingkat pemerintahan, Camat Parittiga Adhian Zulhajjany Elp, S.STP, mengaku belum menerima laporan resmi terkait persoalan tersebut. Namun ia menegaskan, pemerintah kecamatan selalu membuka ruang dialog.  “Kalau memang ada kesalahpahaman, bisa dimediasi secara kekeluargaan,” ujarnya.

Di luar polemik yang beredar, kehidupan di sekitar tambak tetap berjalan. Pekerja tetap datang, tambak tetap dikelola, dan roda ekonomi desa terus berputar. Bagi banyak warga Desa Bakit, PT BAP bukan hanya perusahaan, melainkan tempat bergantung bahwa untuk dapur yang tetap mengepul, untuk seragam sekolah yang bisa dibeli, dan untuk harapan hidup yang lebih layak.
Di desa kecil ini, tambak udang telah menjadi bagian dari cerita keseharian—tentang kerja, tentang penghidupan, dan tentang bagaimana sebuah usaha bisa memberi arti lebih dari sekadar keuntungan. (Red/05)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *